Berikut Adalah Fakta & Sejarah Dari Revolusi 1848 di Prancis

Berikut Adalah Fakta & Sejarah Dari Revolusi 1848 di Prancis

Berikut Adalah Fakta & Sejarah Dari Revolusi 1848 di Prancis – Revolusi Prancis (Révolution française; 1789–1799), adalah suatu periode sosial  radikal dan pergolakan politik di Prancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Prancis, dan lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan. Revolusi ini merupakan salah satu dari revolusi besar dunia yang mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat.

Prancis telah mengalami beberapa revolusi, baik itu monarki maupun republik. Revolusi Prancis yang terkenal, terjadi selama tahun 1790an dan mengakibatkan munculnya Napoleon Bonaparte. Setelah Napoleon jatuh untuk kedua kalinya, Prancis diperintah oleh monarki House of Bourbon, sampai digulingkan dalam Revolusi Juli 1830. Raja Louis Philippe dari House of Orleans kemudian memerintah hingga 1848, seperti yang dilansir Britannica. Pada masa Louis Philippe, terjadi krisis pangan akibat kegagalan panen dan banyaknya pengangguran, menjadi masalah besar dalam pemerintahannya.

Sayangnya, salah satu politikus di istananya, Charles de Choiseul-Praslin, memperburuk keadaan monarki Prancis dengan membunuh istrinya sendiri dan kemudian bunuh diri, seperti yang dikutip GW Law Library. Skandal itu memberi isyarat kepada kaum revolusioner untuk memberontak dan menjadi penyebab Revolusi Prancis tahun 1848.

1. Catatan sejarah Prancis di tahun 1840an
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Pada tahun 1847, Raja Louis Philippe dari House of Orleans telah menjadi raja selama 17 tahun. Revolusi Juli 1830 memungkinkan Louis Philippe untuk merebut takhta di tempat pertama, dengan bantuan borjuis kelas menengah atas.

Namun, Louis Philippe terpaksa turun tahkta agar reformasi berlangsung, dan pergi bersama istrinya ke Inggris, di mana Ratu Victoria memberikan mereka sebuah perkebunan. Ada beberapa revolusi di Eropa pada tahun 1848.

Sama seperti di Prancis, revolusi-revolusi tersebut berkaitan dengan pemberontakan kelas menengah melawan kaum bangsawan karena beberapa alasan – depresi ekonomi, krisis pangan, dan pengangguran yang menjadi masalah utama, dikutip laman Study.

2. Hal ini dimulai dari sebuah keluarga
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Françoise “Fanny” Altarice Rosalba Sébastiani dan Charles Laure Hugues Théobald (Charles de Choiseul-Praslin), atau juga dikenal sebagai Duke dan Duchess of Choiseul-Praslin, menikah pada 18 Oktober 1824, menurut penulis Geri Walton, mereka memiliki sembilan anak selama 23 tahun pernikahan. Théobald lahir beberapa bulan setelah Napoleon Bonaparte menjadi raja Italia.

Françoise adalah putri Marsekal Horace Sebastiani, yang merupakan seorang jenderal terkemuka, dilansir laman Annual Register for 1847. Meskipun demikian, hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, Théobald berselingkuh, membuat skandal yang menghebohkan.

Théobald, Adipati Choiseul-Praslin, adalah seorang politikus dan juga anggota istana Raja Louis Philippe. Ia menjabat sebagai anggota Kamar Deputi dari tahun 1838 hingga 1842 dan dinobatkan sebagai Rekan Prancis pada tahun 1845, menurut Nouvelle biographie générale depuis les temps les plus reculés jusqu’à nos jours. 

3. Pengasuh dan masalah orang ketiga
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Pengasuh Inggris untuk anak-anak Praslin, Henriette Deluzy-Desportes, dilaporkan berselingkuh dengan Adipati Charles pada pertengahan tahun 1847. Sang istri mengira mereka akan kawin lari dan beberapa kali mengancam akan meninggalkan suaminya. Dia juga mengira, jika pengasuh tersebut dipekerjakan untuk memisahkan dia dari anak-anaknya.

Françoise memecat Deluzy-Desportes beberapa minggu sebelum ia terbunuh. Si pengasuh tidak meninggalkan Paris tetapi tinggal di Le Marais, yang sekarang dikenal sebagai distrik bersejarah.

4. 17 Agustus 1847, kematian Françoise
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Sekitar pukul empat atau lima pagi, pelayan Françoise (Duchess) mendengar bel berbunyi, menandakan bahwa majikannya menginginkan sesuatu. Namun, pintu kamar Duchess terkunci. Saat dibuka paksa dengan bantuan, para pelayan melihat sang Duchess terbaring dalam genangan darah, dengan luka parah di tenggorokannya. Payudaranya juga terluka, dan salah satu jari tangan kanannya hampir putus.

Kamarnya berantakan, dipenuhi beling-beling yang berserakan di sekitar ruangan. Charles diberitahu tentang keadaan istrinya, dia segera masuk dan memeluk tubuhnya. Meskipun ahli bedah segera didatangkan, Françoise meninggal dua jam kemudian. Peristiwa malam yang mengerikan ini berdampak bagi seluruh Prancis di bulan-bulan mendatang.

5. Bukti pembunuhan
√ Revolusi Perancis: Sejarah, Penyebab, Proses, Dampak

Pembunuhan itu terjadi pada Selasa pagi, dan polisi mencari informasi selama beberapa hari. Karena dugaan perselingkuhan, dan fakta bahwa Duke dan Duchess tinggal terpisah pada saat itu, Duke ditangkap dan ditahan oleh polisi.

Polisi juga menemukan salah satu pistol Duke yang berlumuran darah. Bahkan, para pelayan sempat melihat Duke sedang mencuci tangannya saat memberitahu bahwa Duchess tewas, seperti sedang menghilangkan darah.

Selain itu, polisi menemukan bagian dari pedang yang patah dan berlumuran darah, yang ditemukan secara terpisah di kamar Duke dan di taman, seolah-olah dilempar. Bukti semakin banyak, tetapi polisi tidak memiliki petunjuk yang jelas.

6. Charles menenggak arsenik sebelum pengadilannya dan meninggal beberapa hari kemudian
Charles VI dari Prancis

Massa di Paris telah mendengar desas-desus bahwa Charles, Adipati Choiseul-Praslin, adalah orang yang membunuh istrinya sendiri. Kaum revolusioner yang membenci raja dan bangsawan istananya sangat senang melihat mereka terjebak dalam skandal dan kejahatan. Pengadilan diadakan pada hari Sabtu, 21 Agustus. Namun, kesehatan Charles, Adipati Choiseul-Praslin memburuk, dia diketahui meminum arsenik sebagai aksi bunuh diri.

Pada hari Sabtu yang sama, dia dipindahkan ke penjara di Luksemburg. Kesehatannya berfluktuasi selama beberapa hari berikutnya, naik dan turun, lebih baik dan lebih buruk. Sayangnya, Duke ditemukan tewas pada 24 Agustus akibat racun arsenik yang ditenggaknya beberapa hari yang lalu.

7. Nasib Raja Louis Philippe setelah skandal pembunuhan oleh orang istananya
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Terutama karena skandal beberapa tahun terakhir, kelas menengah tidak mempercayai Raja Louis Philippe dan istananya. Kasus pembunuhan Duchess sangat mengejutkan, tetapi bagi kaum borjuis, ditetapkannya Duke sebagai tersangka utama adalah kesempatan yang baik, terlepas dia meninggal karena arsenik. Pembicaraan tentang revolusi pun berkembang di tahun 1848.

Pemogokan dan demonstrasi sudah dilarang oleh kerajaan, dan pada bulan Februari 1848, Louis Philippe juga melarang para aktivis dan revolusioner Prancis untuk melampiaskan kemarahan mereka pada monarki, Campagne des banquets, yaitu makan malam penggalangan dana yang diadakan untuk diskusi. Akibatnya, menurut Lumen Learning, kerusuhan pecah di seluruh Paris, dan massa muncul di istana, memaksa raja untuk turun takhta.

8. Revolusi 1848
Penyebab Terjadinya Revolusi Perancis

Louis Philippe turun takhta pada Februari 1848, dan setelah itu, kaum revolusioner memimpin pemerintahan untuk sementara. Namun, pemerintah tidak terorganisir dengan baik.

Borjuis kelas menengah menginginkan reformasi pemilu yang demokratis, sementara para pemimpin sosialis radikal seperti Auguste Blanqui menginginkan republik kesejahteraan sosial dengan hak kebebesan untuk bekerja.

Revolusi membawa beberapa kelas yang berbeda untuk mereformasi pemerintahan yang rusak. Republik Prancis Kedua secara resmi mengadopsi moto “Liberté, galité, Fraternité.” Berbeda dengan sentimen itu, pria yang terpilih menjadi presiden sementara pertama adalah penyair Alphonse de Lamartine, menjadi diktator selama tiga bulan ia memimpin.

9. Pemberontakan June Days
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Pada bulan Maret 1848, Prancis memiliki jutaan pemilih baru ketika memberikan hak memilih untuk semua orang. Klub politik mulai bermunculan di seluruh negeri, termasuk untuk perempuan, meskipun mereka tidak memiliki suara.

Prancis memilih kandidat moderat pada bulan April, sebagai lawan dari kaum liberal yang telah memulai revolusi di tempat pertama, tulis Britannica. Hasil pemilu juga menyebabkan pemberontakan singkat pada bulan Juni, dipimpin oleh para pekerja, yang berlangsung selama tiga hari. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak menangani masalah pekerja. Sekitar 1.500 pekerja pun tewas.

Pemerintah kekurangan anggaran untuk program-program sosial seperti memperbaiki pengangguran yang melanda negara itu. Konstitusi Republik Prancis Kedua diratifikasi pada bulan September 1848. Konstitusi yang lemah adalah pesan yang jelas bahwa Prancis belum siap untuk menjadi sebuah republik, bahkan jika rakyatnya sangat menginginkannya.

10. Prancis, setelah Revolusi 1848
10 Sejarah Revolusi 1848 di Prancis, Penuh Pemberontakan

Setelah revolusi yang mewujudkan Republik Prancis Kedua, mantan Raja Louis Philippe melarikan diri dari Prancis dan menetap di Surrey, Inggris. Dia meninggal di sana pada tahun 1850. Pada bulan Desember yang sama, Charles Louis Napoleon Bonaparte terpilih sebagai presiden republik.

Majelis Konstituante mengeluarkan langkah-langkah yang cenderung konservatisme, seperti merampas sepertiga hak kebebasan memilih bagi kaum laki-laki. Ketika masa jabatannya berakhir, Bonaparte mendesak agar pemerintah membayar hutangnya dan masa jabatan keduanya. Sayangnya, majelis tidak sanggup.

Republik Perancis Kedua hanya berlangsung sampai tahun 1852, sejak Charles Bonaparte, keponakan dari Napoleon Bonaparte yang terkenal ini melakukan kudeta, menyatakan dirinya sebagai kaisar, dan dengan demikian membubarkan republik.

Meskipun Revolusi 1848 tidak diwarnai banyak kekerasan, orang-orang Prancis masih sangat menginginkan perubahan itu beberapa dekade kemudian, tetapi mereka tidak mendapatkannya. Dalam rentang beberapa tahun, Napoleon lain telah menggulingkan semua yang ingin dicapai oleh kaum revolusioner, dan Prancis sekali lagi menjadi sebuah kerajaan.

Rakyat Prancis mengalami transformasi sosial politik yang epik; feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak diruntuhkan oleh kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di perdesaan.

Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat, dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru; Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).

Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya di seluruh Eropa, yang berupaya mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad berikutnya.