Berikut Pengaruh Negatif Sedotan Plastik Bagi Lingkungan

Berikut Pengaruh Negatif Sedotan Plastik Bagi Lingkungan

Berikut Pengaruh Negatif Sedotan Plastik Bagi Lingkungan – Sedotan adalah sebuah tabung yang dimaksudkan untuk mentransfer minuman dari wadah ke mulut peminum, dengan penerapan kekuatan mengisap. Sedotan plastik sebenarnya bukan merupakan item yang benar-benar penting karena kita bisa minum tanpanya. Namun, sedotan plastik justru banyak digunakan oleh orang-orang.

Sedotan yang paling awal berbentuk cekungan batang rumput dan benar-benar terbuat dari rumput / jerami. Sebuah tabung plastik tipis (seperti polypropylene dan polystyrene) atau bahan lain, lurus atau dengan engsel seperti akordeon, Selain itu, materialnya yang sekali pakai membuatnya tak bisa digunakan berulang-ulang. Akibatnya, limbahnya akan menumpuk di lingkungan.

Menumpuknya limbah sedotan plastik bukan hanya membuat lingkungan menjadi kotor, tetapi juga memberikan dampak yang besar. Dilansir dari idn poker ios Berikut adalah sejumlah dampak negatif sedotan plastik bagi lingkungan.

1. Melepaskan bahan kimia berbahaya
5 Dampak Buruk Sedotan Plastik bagi Lingkungan, Jangan Dianggap Sepele

Salah satu bukti nyata bahaya sedotan plastik bagi lingkungan adalah Great Pacific Garbage Patch (GPGP). Ini adalah tempat pembuangan sampah di antara Hawaii dan California yang menempati area seluas 1,6 juta kilometer persegi dan diperkirakan telah menampung lebih dari 80 ribu ton sampah, menurut The Ocean Cleanup. Ada banyak sampah plastik yang terdapat di sini, termasuk sedotan.

Tentu saja, sangat sulit membersihkan area yang begitu besar di atas air. Selain itu, menurut survei tahun 2018 yang dilaporkan dalam American Chemical Society,
84 persen plastik di sini ditemukan mengandung persistent bioaccumulative toxic (PBT).

2. Mencemari lautan
5 Dampak Buruk Sedotan Plastik bagi Lingkungan, Jangan Dianggap Sepele

Sedotan plastik kerap berakhir di lautan. National Geographic memperkirakan jumlah limbah plastik yang berakhir di lautan adalah 8 juta ton setiap tahun dan sebagian juga terbawa ke sungai-sungai besar di seluruh dunia.

Lalu, karena sedotan plastik kecil dan ringan, sedotan ini sering tertiup angin dari tempat sampah, kendaraan sampah, dan tempat pembuangan sampah. Sedotan plastik kemudian dapat dengan cepat masuk dan hanyut ke laut. Seiring waktu, ini akan membuat sampah di lautan semakin menumpuk dan sulit dibersihkan.

3. Membahayakan kehidupan laut
5 Dampak Buruk Sedotan Plastik bagi Lingkungan, Jangan Dianggap Sepele

Sedotan plastik sangat membahayakan kehidupan laut. Untuk mempelajari dampak plastik pada kehidupan laut, di tahun 2018 beberapa peneliti dari University of Georgia melakukan pengamatan pada 96 bayi penyu dari pantai-pantai di sekitar Florida.

Penyu, burung laut, dan ikan yang mengonsumsi plastik bisa mati kelaparan. Ini karena setelah makan plastik, hewan-hewan ini berpikir bahwa perut mereka penuh sehingga mereka tidak memakan makanan yang sebenarnya mereka butuhkan. Selain membunuh hewan yang tidak bersalah dengan sampah plastik, manusia juga sedang mencemari bagian penting dari rantai makanan mereka sendiri.

4. Tidak dapat terurai secara hayati
5 Dampak Buruk Sedotan Plastik bagi Lingkungan, Jangan Dianggap Sepele

Tidak seperti bahan alami, seperti kertas, kayu, atau kapas, sebagian besar plastik terbuat dari polipropilena yang tidak dapat terurai secara hayati. Ini berarti, saat sedotan plastik dibuang ke lingkungan, organisme kecil tidak dapat memakan dan menguraikannya.

Sebaliknya, yang terjadi adalah, sedotan akan terdegradasi dan secara bertahap hancur menjadi partikel yang lebih kecil, yang dikenal sebagai mikroplastik. Dijelaskan dalam laman TRVST, butuh periode hingga 200 tahun agar plastik berubah menjadi mikroplastik. Saat terdegradasi, plastik juga melepaskan bahan kimia berbahaya, seperti bisphenol A (BPA), yang dikaitkan dengan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan.

5. Sulit didaur ulang
5 Dampak Buruk Sedotan Plastik bagi Lingkungan, Jangan Dianggap Sepele

Sedotan plastik sangat sulit untuk didaur ulang. Menurut penelitian tahun 2017 yang dilaporkan dalam jurnal Science Advances, dari 8.300 juta metrik ton plastik yang pernah diproduksi, hanya 9 persen yang telah didaur ulang. Sedotan plastik dengan bahan polipropilena bahkan lebih jarang didaur ulang.

Oleh sebab itu, sangat sulit bagi pegiat lingkungan menemukan fasilitas daur ulang untuk sedotan. Ditambah, karena ukurannya yang sangat kecil dan ringan sehingga sulit untuk disortir, biasanya sedotan plastik akan berakhir di tempat pembuangan akhir dan menambah limbah di lingkungan.