Deretan Kerajaan Kuno yang Berada di Wilayah Transkaukasia

Deretan Kerajaan Kuno yang Berada di Wilayah Transkaukasia

Deretan Kerajaan Kuno yang Berada di Wilayah Transkaukasia – Eropa Timur dan Asia Barat Daya, juga disebut Transkaukasia, atau The Transkaukasus. Lebih jelasnya, wilayah Kaukasus Selatan terbentang dari bagian selatan Pegunungan Kaukasus dan dataran rendah di sekelilingnya serta mencakup perbatasan antara benua Eropa dan Asia; dari bagian selatan pegunungan Kaukasus Besar di barat daya Rusia ke arah selatan menuju Anatolia Timur di Turki dan dataran tinggi Armenia, dan dari Laut Hitam di barat ke arah timur menuju pantai Laut Kaspia di Iran.

Kaukasus Selatan mencakup bagian selatan Pegunungan Kaukasus Besar, keseluruhan Pegunungan Kaukasus Kecil, Dataran Rendah Kolkhis, Dataran Rendah Kur-Araz, Pegunungan Talysh, Dataran Rendah Lankaran, Javakheti, dan bagian timur Dataran Tinggi Armenia. Bersama dengan Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan membentuk wilayah geografis besar Kaukasus yang membelah benua Eurasia menjadi dua, dengan bagian barat Kaukasus Selatan saling tumpang tindih dengan pegunungan Kaukasus Kecil dan bersatu dengan dataran tinggi Anatolia Timur di timur laut jauh Turki.

Transkaukasia adalah suatu kawasan di bagian selatan Pegunungan Kaukasia yang berada tepat diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Maka dari itu, kawasan ini boleh dianggap sebagai salah satu pembatas Benua Asia dan Eropa. Transkaukasia modern adalah rumah bagi tiga negara, yaitu Georgia, Armenia, dan Azerbaijan. Pada masa lalu, daerah tersebut adalah korban perebutan beberapa negara besar di sekitarnya serta persaingan ideologi, politik, agama, dan militer pada zaman modern. Misalnya penjerumusan komunisme oleh Uni Soviet atau konflik Armenia-Azerbaijan.

1. Kerajaan Urartu
Hampir Terlupakan, Ini 5 Kerajaan Kuno di Kawasan Transkaukasia  

Urartu adalah kerajaan kuno yang berdiri pada abad 9 SM dan mendominasi wilayah pegunungan di Armenia, timur Turki, dan utara Iran. Negeri ini memiliki keuntungan geografis yang memudahkan kegiatan penambangan mineral, peternakan, dan perkebunan. Berkat iklim yang bersahabat untuk pengaplikasian vitikultur (ilmu tentang budidaya tanaman anggur), Urartu merupakan salah satu produsen wine pertama di kawasan Transkaukasia. Kerajaan tertua di Armenia ini juga menjalin relasi ekonomi yang baik dengan kawasan Mediterania dan bangsa-bangsa kuno di Anatolia (sekarang Turki).

Raja Rusa II dari Urartu yang memerintah pada abad 7 SM adalah pendiri ibukota modern Armenia, yaitu Yerevan. Namun, kerajaan ini dulunya beribukota Kota Tushpa (sekarang Van di Turki) yang masih ditemui sebuah benteng tua sebagai saksi mata kebesaran kerajaan ini pada waktu itu. Setelah mampu bertahan selama kurang lebih tiga abad, Urartu terpaksa bertekuk lutut karena gencarnya serangan yang dimulai oleh bangsa Asiria, bangsa Mede dari Iran, dan Kekaisaran Akhemeniyah pada abad 6 SM.

2. Kerajaan Armenia
Hampir Terlupakan, Ini 5 Kerajaan Kuno di Kawasan Transkaukasia  

Kerajaan Armenia yang dibentuk setelah kejatuhan Urartu dipimpin oleh tiga dinasti besar, yakni Orontid, Artaxiad, dan Arsakid. Kerajaan ini mulanya adalah satrap (provinsi otonom) bangsa Persia sejak abad 6 SM hingga abad 4 SM. Sepanjang periode Orontid, Kerajaan Armenia sesungguhnya belum seratus persen merdeka karena penjajahan oleh Makedonia, Kekaisaran Seleukia, dan Kekaisaran Partia.

Pada era Dinasti Artaxiad, Armenia mencapai puncak kejayaan ketika Raja Tigranes the Great mencaplok wilayah mulai dari Laut Hitam di utara hingga dekat Mediterania (Antiokia) di selatan. Armenia juga mengalami peningkatan kemakmuran tapi menghadapi ancaman oleh dua negeri raksasa, yaitu Romawi Kuno di barat dan Partia di timur. Dinasti ini berakhir saat Romawi dan Partia berkonflik yang menyebabkan Armenia menjadi korban.

Dinasti Arsakid adalah periode ketika Armenia berhasil lepas untuk sementara dari cengkeraman penjajah dan bersatu pada era Raja Tiridates III. Raja ini memeluk agama Kristen pada tahun 301 M setelah disembuhkan oleh Saint Gregory the Illuminator. Sejak momen tersebut, Armenia menjadi kerajaan Kristen pertama di dunia sehingga pembangunan gereja gencar dilakukan di berbagai daerah Armenia, termasuk Katedral Etchmiadzin yang masih ada sampai sekarang di dekat Yerevan. Sayangnya, dinasti yang menciptakan alfabet Armenia ini dibubarkan oleh Persia pada tahun 428 M.

3. Kerajaan Kolkhis
Hampir Terlupakan, Ini 5 Kerajaan Kuno di Kawasan Transkaukasia  

Kerajaan Kolkhis merupakan negara pertama di tanah Georgia yang berdiri pada abad 6 SM. Terbentuknya kerajaan ini dilatarbelakangi oleh persatuan suku-suku di Georgia sejak ratusan tahun sebelumnya yang kemudian berhasil berkembang pesat dan membentuk pemerintahan monarki. Jauh sebelum terbentuknya kerajaan, tanah Kolkhis sudah sangat kaya emas, kayu, dan hasil pertanian yang diekspor ke Yunani pada zaman kolonialisme pertama. Menurut mitologi Yunani, Kolkhis adalah lokasi tujuan Jason and the Argonauts dalam mencari bulu domba emas.

Kerajaan ini dikuasai oleh banyak bangsa dan negara tetangganya, seperti Media, Persia, Saka, dan Kerajaan Pontus. Kolkhis pada akhirnya dijajah oleh Jenderal Pompey dan digabungkan ke dalam provinsi Kekaisaran Romawi. Pada era Romawi Kuno, Kolkhis disatukan dalam sebuah kerajaan baru semiotonom, yaitu Lazika. Meskipun sudah punah, salah satu bukti adanya Kerajaan Kolkhis adalah Benteng Nokalakevi yang didirikan oleh Raja Kuji dari Kolkhis pada abad 4 atau 3 SM yang kemudian dimanfaatkan sebagai pertahanan Lazika.

4. Kerajaan Albania Kaukasia
Hampir Terlupakan, Ini 5 Kerajaan Kuno di Kawasan Transkaukasia  

Albania Kaukasia pada awalnya diketahui merupakan satrap atau wilayah otonom Kekaisaran Media pada abad 4 SM. Kini berlokasi di wilayah modern Azerbaijan, Georgia, dan Armenia, Kerajaan Albania Kaukasia bermula dari unifikasi berbagai suku di sana yang dipimpin oleh seorang kepala pemerintahan monarki pertama pada abad 2 SM. Menurut peneliti pada masa lampau, masyarakat di wilayah kerajaan ini adalah bangsa seminomaden sederhana yang belum mengenal uang. Mereka masih mengutamakan barter, hidup dengan berburu, dan diyakini memiliki 26 bahasa atau dialek.

Albania Kaukasia memiliki sejarah panjang yang penuh dengan konflik, seperti penjajahan oleh Jenderal Pompey pada tahun 65 SM dan intervensi dari negara-negara tetangganya. Setelah penjajahan oleh Kekaisaran Sasaniyah, suatu dinasti dari Persia tiba dan berkuasa di Albania Kaukasia mulai abad 4. Pada saat itu, kota-kota besar mulai diketahui berada di wilayah kerajaan ini. Contohnya adalah Qabala. Dinasti ini bertahan selama ratusan tahun dan berakhir ketika bangsa Arab menguasai Albania Kaukasia pada abad 7.

5. Kerajaan Iberia
Hampir Terlupakan, Ini 5 Kerajaan Kuno di Kawasan Transkaukasia  

Kerajaan Iberia lahir setelah seorang kepala suku, Pharnavaz sukses menguasai banyak wilayah di Georgia dan sekitarnya, termasuk Kerajaan Kolkhis. Ia menjadi raja Iberia pertama sejak tahun 302 SM, melakukan banyak pembangunan di ibukota Armaztsikhe, dan mereformasi bahasa tertulis tradisional Georgia.

Bernasib kurang beruntung, Kerajaan Iberia pada akhirnya tunduk kepada Kerajaan Armenia, Kekaisaran Romawi Kuno, dan yang terakhir Kekaisaran Sasaniyah dari Persia. Pada mulanya, Iberia bekerja sama dan menjalin relasi yang baik dengan bangsa-bangsa asing tersebut. Iberia sudah berupaya untuk mengembalikan kedaulatan kerajaannya pada abad 5 oleh Raja Gorgasali, tapi hanya bersifat sementara. Kerajaan ini akhirnya diputuskan bubar pada tahun 580 dan menjadi provinsi Sasaniyah.

Salah satu peninggalan Kerajaan Iberia yang berhasil diselamatkan adalah Biara Samtavro di Kota Mtskheta (ibukota Iberia yang lainnya) yang sudah berulang kali direstorasi. Biara ini dibangun pada abad 4 oleh Mirian III, raja Iberia pertama yang memeluk agama Kristen.

Keseluruhan negara Armenia masuk kedalam wilayah Kaukasus Selatan. Sebagian besar negara Georgia dan Azerbaijan, beserta eksklavenya, Nakhichevan, juga masuk dalam wilayah ini. Ketiga negara ini merupakan negara bekas Uni Soviet. Wilayah ini merupakan produsen minyak bumi, mangan, teh, jeruk dan anggur.

Sampai saat ini, Kaukasus Selatan masih menjadi wilayah yang sensitif secara politis dan mencakup tiga daerah yang sangat diperdebatkan: Abkhazia, Ossetia Selatan (keduanya diakui secara internasional sebagai bagian dari Georgia), dan Republik Nagorno-Karabakh (diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan).

Terletak di pinggiran Turki, Iran, dan Rusia, wilayah Kaukasus Selatan telah menjadi ajang persaingan dan perluasan wilayah politik, militer, keagamaan, dan budaya selama berabad-abad. Dalam sejarah, wilayah ini pernah di kendalikan oleh berbagai jenis kekaisaran, mulai dari Romawi, Bizantin,  Mongolia, Persia, Utsmaniyah, hingga Rusia, semuanya memperkenalkan budaya dan iman mereka.