Inilah Efek Sabu-Sabu dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Inilah Efek Sabu-Sabu dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Inilah Efek Sabu-Sabu dan Manfaatnya Bagi Kesehatan – Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met, dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik.

Obat ini dipergunakan untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn, tetapi juga disalahgunakan sebagai narkotika. “Crystal meth” adalah bentuk kristal dari metamfetamina yang dapat dihisap lewat pipa. Tertangkapnya Nia Ramadhani dan suaminya, Ardi Bakrie, pada Rabu (7/7/2021) menghebohkan publik.

Keduanya mengaku mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu (metamfetamina) atau sering disebut idn poker sabu dalam 4-5 bulan terakhir. Barang bukti sabu seberat 0,78 gram pun disita polisi, begitu pula dengan alat isap sabu (bong) yang ditemukan di kediamannya.

1. Sabu-sabu adalah stimulan yang kuat dan sangat adiktif
Efek Sabu-sabu pada Kesehatan, Menyebabkan Kerusakan Otak?

Sabu-sabu merupakan stimulan yang kuat dan sangat adiktif yang memengaruhi sistem saraf pusat. Narkoba ini punya banyak nama, mulai dari methbluecrystalspeedglasschalktina, dan ice.

Menurut keterangan dari National Institute on Drug Abuse, bentuk sabu seperti bubuk kristal putih, tidak berbau, rasanya pahit, serta mudah larut dalam air dan alkohol.

Cara menggunakannya adalah dengan diisap, dihirup, disuntikkan, hingga ditelan. Setelah digunakan, zat ini akan mengontrol pikiran, memori, fokus, dan indra seseorang, serta memengaruhi suhu tubuh, pernapasan, keseimbangan, dan gerakan.

Berapa lama sabu-sabu bertahan dalam tubuh? Mengutip Vertava Health Texas, sabu tradisional bertahan beberapa jam hingga setengah hari sebelum efeknya hilang. Sementara itu, sabu kristal bisa bertahan hingga tiga hari.

Faktor-faktor yang memengaruhi berapa lama narkoba tersebut bertahan dalam tubuh bergantung pada dosis, toleransi pengguna, riwayat medis individu, serta kemampuan tubuh untuk memetabolisme sabu-sabu.

2. Terjadi perubahan perilaku setelah mengonsumsi sabu-sabu
Efek Sabu-sabu pada Kesehatan, Menyebabkan Kerusakan Otak?

Menurut studi yang dipublikasikan di Psychiatric Times tahun 2012, dosis sabu-sabu yang sangat tinggi bisa memicu kebingungan, kecemasan, agitasi, panik, cepat marah, paranoia, muncul perilaku kekerasan, halusinasi pendengaran, gangguan keterampilan psikomotor dan kognitif, serta disforia (kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa frustrasi, tidak bahagia, dan ketidakpuasan menjalani hidup).

Setelah merasakan euforia, pengguna sabu-sabu akan masuk ke fase tweaking, yaitu perasaan negatif seperti kecemasan dan kehampaan. Fase ini diikuti dengan kelelahan yang intens dan kantuk yang tak terkendali.

3. Tak hanya psikologis, pengguna sabu-sabu juga merasakan efek fisiologis
Efek Sabu-sabu pada Kesehatan, Menyebabkan Kerusakan Otak?

Apa yang dirasakan pengguna sabu-sabu dalam jangka pendek? Mereka mungkin mengalami peningkatan suhu tubuh, kehilangan nafsu makan, hipertensi, takikardia (detak jantung di atas normal), dan takipnea (bernapas lebih cepat dari tempo normal).

Jika sabu dikonsumsi pada dosis tinggi, penggunanya akan merasakan sakit kepala, penglihatan kabur, gemetar, berkeringat, mual, muntah, demam, nyeri dada, pusing, kram perut, dehidrasi, hingga kelelahan otot dan kram.

Masih bersumber dari studi dalam Psychiatric Times tahun 2012, dosis yang sangat tinggi bisa menyebabkan hipertensi, hipertermia (suhu tubuh terlalu tinggi), kejang, kebutaan sementara, aritmia (gangguan irama jantung), gagal ginjal, pendarahan otak, sampai kematian!

4. Bisa merusak otak, baik secara fungsional maupun struktural
Efek Sabu-sabu pada Kesehatan, Menyebabkan Kerusakan Otak?

Sabu-sabu bisa menyebabkan kerusakan progresif pada otak, bahkan bisa sampai parah! Mengacu pada studi dalam jurnal Biological Psychiatry tahun 2009, pemakaian sabu yang berat dalam jangka panjang bisa merusak otak, baik secara fungsional dan struktural.

Bahkan, setelah pemakaiannya dihentikan, aktivitas biokimia di otak yang berubah membutuhkan waktu untuk menjadi normal. Walau begitu, pada banyak kasus, disfungsi di neuron otak bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Melansir Verywell Mind, sabu bisa merusak otak dengan cara memicu kematian sel-sel otak dan menyebabkan perubahan neurotransmiter akut. Selain itu, penyalahgunaan jangka panjang bisa mengubah transporter dan reseptor seluler otak (bagian yang bertanggung jawab menyampaikan pesan ke seluruh otak).

Padahal, transporter dan reseptor ini terlibat dalam mengatur suasana hati. Jika bagian ini mengalami kerusakan, maka seseorang akan mengalami gejala cepat marah, mudah cemas, depresi, dan insomnia.

Berdasarkan studi dalam jurnal Addiction Science & Clinical Practice tahun 2010, mantan pemakai yang bebas dari sabu-sabu selama enam bulan mendapat skor yang lebih rendah pada keterampilan verbal, motorik, dan tugas psikologis daripada mereka yang tidak pernah menggunakan barang haram tersebut.

5. Berisiko tertular HIV dan hepatitis jika sabu-sabu disuntikkan dengan jarum
Efek Sabu-sabu pada Kesehatan, Menyebabkan Kerusakan Otak?

Risiko lain yang turut membayangi adalah rentan tertular human immunodeficiency virus atau HIV, hepatitis B dan C jika sabu-sabu disuntikkan dengan jarum. Ini ditegaskan oleh National Institute on Drug Abuse dalam situs resminya. Terutama, jika jarum tersebut terkontaminasi, digunakan berulang-ulang, atau dipakai bergiliran oleh beberapa orang sekaligus.

Melansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Apabila HIV tidak diobati, maka bisa berkembang menjadi AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Sementara itu, hepatitis B adalah infeksi hati serius yang dipicu oleh virus hepatitis B (HBV). Terkena hepatitis B kronis meningkatkan risiko gagal hati, kanker hati, dan sirosis, mengutip Mayo Clinic.

Hepatitis C merupakan penyakit hati yang disebabkan virus hepatitis C (HCV). Cara penularan virus paling umum adalah lewat darah, yang bisa terjadi pada pengguna narkoba suntikan, transfusi darah yang tidak aman, perawatan kesehatan yang sembarangan, hingga lewat praktik seksual, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan.

Penemuan metamfetamina berawal pada tahun 1871, ketika seorang ahli farmasi Jepang bernama Nagai Nagayoshi yang sedang melakukan riset di Universitas Humboldt, Berlin. Nagoyashi berhasil mengisolasi senyawa efedrina yang berfungsi sebagai stimulan dari tumbuhan Cina, Ephedra sinica.

Awalnya efedrina diharpkan dapat membantu penderita asma, tetapi perusahaan Jerman, Merck, menolak untuk memproduksi obat tersebut karena efeknya yang tidak jauh berbeda dengan adrenalin. Hal ini memicu Nagayoshi untuk meningkatkan efek efedrina dan mengembangkannya menjadi metamfetamina. Sayangnya, Nagoyashi belum dapat menemukan aplikasi praktis metamfetamina dan obat ini akhirnya sempat dilupakan.