Inilah Ulasan dari Obat Hipertensi untuk Pengobatan Covid-19

Inilah Ulasan dari Obat Hipertensi untuk Pengobatan Covid-19

Inilah Ulasan dari Obat Hipertensi untuk Pengobatan Covid-19 – COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia. Sejak pertama kali dilaporkan di China pada akhir 2019 lalu, para ahli di berbagai penjuru dunia masih mencoba memahami penyakit akibat virus corona SARS-CoV-2 ini lewat berbagai penelitian, termasuk cara mengobati dan vaksinnya.

Kasus pertama penyakit ini terjadi di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Setelah itu, COVID-19 menular antarmanusia dengan sangat cepat dan menyebar ke puluhan negara, termasuk Indonesia, hanya dalam beberapa bulan. COVID-19 dapat menyerang tanpa gejala, ataupun gejala ringan, sedang, hingga berat.

udah menginfeksi lebih dari 200 juta populasi dunia dan menyebabkan lebih dari 4 juta kematian, penyakit ini tidak bisa dianggap remeh. Nah, ada studi terbaru yang mengungkap potensi obat hipertensi untuk pengobatan COVID-19 berat. Berikut ini ulasan penelitiannya.

1. Respons imun yang berlebihan
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Seperti penyakit pada umumnya, COVID-19 mengaktifkan respons imun. Namun, pada gejala COVID-19 parah, sistem kekebalan menjadi tidak terkendali untuk mengimbangi SARS-CoV-2 yang bereplikasi dengan cepat.

Masalahnya, produksi sitokin berlebihan atau istilah medisnya adalah badai sitokin, serta aktivasi neutrofil dan makrofag yang juga berlebihan dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut yang terjadi saat cairan menumpuk di kantung-kantung udara (alveoli) di paru-paru atau acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada pasien COVID-19 parah.

2. ARDS, salah satu komplikasi berbahaya COVID-19
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Menurut sebuah studi pada 2021 di China yang dimuat dalam jurnal Nature, sebanyak 14-33 persen pasien COVID-19 mengalami gejala parah. Dari angka tersebut, dua pertiga mengalami ARDS.

Akumulasi cairan di alveoli diakibatkan oleh kebocoran pembuluh darah, sehingga kemampuan paru-paru untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Oleh karena itu, pasien dengan kondisi tersebut membutuhkan bantuan ventilator invasif untuk membantu kerja paru-paru.

Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Neutrofil memang memainkan peran penting untuk melindungi tubuh dari virus. Namun, hiperaktivasi neutrofil malah merusak jaringan paru-paru dan pembuluh darah, seperti yang terjadi pada ARDS.

Nahasnya, hingga saat ini tak ada pengobatan yang langsung menarget gejala ARDS pada pasien COVID-19 parah. Namun, penelitian terbaru di Spanyol membawa pencerahan akan hal tersebut.

3. Studi terbaru membandingkan obat hipertensi untuk merawat gejala COVID-19 parah
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Dimuat dalam jurnal Journal of the American College of Cardiology pada September 2021, para peneliti ingin mengetahui apakah obat beta-blocker untuk hipertensi, Metoprolol, dapat mengurangi inflamasi paru-paru dan meningkatkan fungsi pernapasan pada pasien COVID-19 dengan komplikasi ARDS.

Para peneliti dari Centro Nacional de Investigaciones Cardiovasculares (CNIC) dan IIS-Fundación Jiménez Díaz University Hospital merekrut 20 pasien COVID-19 dengan komplikasi paru-paru parah hingga membutuhkan bantuan ventilator invasif. Para pasien dibagi menjadi dua kelompok:

  • Sebanyak 12 pasien: diberikan obat Metoprolol sebanyak 15 miligram (mg) per hari selama 3 hari via infus
  • Sebanyak 8 pasien: tidak diberikan pengobatan Metoprolol
4. Hasil: obat Metoprolol dapat membantu komplikasi ARDS pada gejala pasien COVID-19
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Hasilnya, para peneliti Spanyol menemukan, dibandingkan dengan perawatan standar, kelompok Metoprolol memperlihatkan pengurangan jumlah sel imun neutrofil dalam cairan paru-paru pasien COVID-19.

Para peneliti juga melihat bahwa Metoprolol memperlihatkan penurunan aktivasi neutrofil yang berhubungan dengan produksi NET. Oleh karena itu, Metoprolol dapat mengurangi inflamasi paru-paru dan membatasi masuk dan aktivasi neutrofil pada paru-paru pasien COVID-19 dengan ARDS.

Meskipun ada hubungan antara pemberian Metoprolol dan durasi pemberian ventilator invasif dan perawatan unit perawatan intensif (ICU) yang lebih singkat, hasilnya tidak signifikan secara statistik. Untungnya, tidak ada efek samping pada pemberian Metoprolol.

5. Selain kardiovaskular, beta-blocker bisa berguna untuk paru-paru
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Obat beta-blocker seperti Metoprolol dapat memblokir efek hormon epinefrin dan norepinefrin yang menyebabkan respons fight-or-flight pada tubuh. Beta-blocker sering kali digunakan untuk mengobati pasien dengan kondisi kardiovaskular.

Selain itu, dalam penelitiannya yang dimuat pada 2020 dalam jurnal Blood Pressure, Sverre mengatakan bahwa obat beta-blocker dapat menjadi kandidat pengobatan untuk pasien COVID-19 gejala parah.

Para peneliti Spanyol mengungkapkan bahwa temuan tersebut memberikan wawasan terbaru mengenai peran beta-blocker Metoprolol terhadap neutrofil yang mendorong respons inflamasi pada paru-paru.

6. Kelebihan dan kekurangan studi ini
Studi: Obat Hipertensi Berpotensi Lawan Gejala COVID-19 Berat

Kepala tim peneliti Spanyol dari CNIC, Agustín Clemente-Moragón, mengatakan bahwa Metoprolol beredar untuk penggunaan klinis dengan harga terjangkau. Oleh karena itu, Metoprolol memiliki potensi untuk mengurangi beban ICU ekstrem akibat COVID-19.

Namun, para peneliti melihat bahwa penelitian ini memiliki ukuran sampel yang minim dan hanya berlangsung di satu lokasi. Selain itu, ada potensi bias karena para peneliti tahu pasien mana yang ada di kelompok Metoprolol dan kontrol.