Lima Hal yang Membuat Anak Tak Nyaman di Lingkungan Keluarga

Lima Hal yang Membuat Anak Tak Nyaman di Lingkungan Keluarga

Lima Hal yang Membuat Anak Tak Nyaman di Lingkungan Keluarga – Lingkungan Keluarga adalah lingkungan dimana seseorang mendapatkan pendidikan pertama yang sangat mempengaruhi perilakunya dan berperan dalam menentukan tujuan hidupnya. Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, hal ini agar anak tetap merasa nyaman dan dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan usianya.

Lingkungan Keluarga merupakan usaha sadar dari orang dewasa secara normatif untuk mempengaruhi perkembangan anak dalam bentuk pendidikan. Namun tahukah kamu, lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi anak, ternyata bagi beberapa anak justru membuatnya merasa tak nyaman lho!

Akibatnya, anak sering kali memilih untuk menghindar setiap kali ada acara keluarga atau terlihat jarang berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya. Jika sudah begini, kamu perlu mengetahui apa saja hal yang membuatnya merasakan demikian. Terdapat 5 hal yang membuat anak merasa tak nyaman berada di lingkungan keluarga. Disimak yuk!

1. Tak ada yang mencoba memahami perasaan anak
1. Tak ada mencoba memahami perasaan anak

Tak hanya orang dewasa saja, anak-anak pun juga bisa mengalami masalah berat dalam hidupnya. Banyak anak yang tanpa disadari harus menanggung beban dan butuh dirangkul atau didengarkan agar ia tak merasa sendirian.

Namun, bukannya mendengarkan keluahan anak, anggota keluarga biasanya bertingkah cuek seolah masalahnya hanyalah masalah biasa. Dari rasa cuek ini akhirnya membuat anak merasa tak nyaman karena taak ada yang memahami perasaannya.

Meski bagi Mama atau Papa masalah anak tak seberat masalah orang dewasa, cobalah memahami perasaannya. Sebab memendam masalah sendirian itu berat, terlebih untuk usia anak-anak.

2. Mendengarkan kalimat kasar yang terlontar untuknya
2. Mendengarkan kalimat kasar terlontar untuknya

Saat anak berbuat tak sesuai harapan keluarganya, ia sering kali mendapat kata-kata kasar yang bagi orang dewasa agar anak tak mengulangi kesalahannya.

Namun tahukah Mama, hal ini justru berdampak jauh lebih buruk daripada sekedar rasa nyaman. Anak bisa saja menjadi dendam serta tindakannya jauh lebih membangkang.

Untuk itu, tak ada salahnya menyatakan kesalahan anak dengan cara yang baik-baik. Orang dewasa saja tak menyukai jika diperlakukan kasar, pun bagi anak-anak yang mentalnya belum sekuat orang dewasa, Ma.

3. Kebutuhan yang tak terpenuhi
3. Kebutuhan tak terpenuhi

Jika suatu kebutuhan tak tercukupi, ini akan membuat siapa saja merasa jengkel. Hal ini pun juga dirasakan oleh anak-anak, Ma.

Jika kebutuhan anak baik itu kebutuhan pendidikan, pakaian, maupun kebutuhan untuk mengembangkan hobinya tak teroenuhi, ia akan merasa tak nyaman dan merasa keluarganya tak menyayanginya.

Disaat anak merasa seperti ini, cobalah menjelaskan padanya alasan mengapa Mama dan Papa belum bisa memenuhi kebutuhan yang ia inginkan. Jika dijelaskan secara baik-baik, anak akan belajar memahami situasi yang ada dalam keluarga daripada sama sekali tak memberikan penjelasan.

4. Tak ada yang memberi dukungan pada anak
4. Tak ada memberi dukungan anak

Saat anak memiliki hobi atau sesuatu yang membutuhkan banyak dukungan namun tak ada keluarganya yang mendukung, ini akan membuat anak merasa sedih dan tak nyaman berada di rumah. Terlebih ketika dukungan yang diinginkan adalah menyangkut cita-citanya kelak.

Saat anak tak mendapat dukungan, akibatnya rasa percaya diri anak akan kehidupannya kelak semakin berkurang karena tak ada dukungan dari orang sekitar. Jadi cobalah memberikan dukungan sebisa Mama dan Papa untuk keberhasilan anak kelak.

5. Dibandingkan sekaligus diremehkan
5. Dibandingkan sekaligus diremehkan

Hal satu ini menjadi hal menjengkelkan yang sering kali membuat anak tak nyaman dengan lingkungan di keluarganya. Membandingkan bahkan meremehkan anak dengan orang lain bisa berdampak buruk lho, Ma!

Salah satu akibatnya adalah berkurangnya rasa percaya diri anak dan membuat anak merasa takut mencoba hal baru karena melihat keberhasilan orang lain yang menjadi pembandingnya.

Oleh karena itu hal ini perlu menjadi perhatian bagi keluarganya, agar tak asal mengungkapkan pemikiran secara langsung.