Mitos yang Terdengar Ilmiah, Tapi Terbukti Keliru!

Mitos yang Terdengar Ilmiah

Mitos yang Terdengar IlmiahSains merupakan sebuah metode atau kaidah keilmuan yang sudah digunakan untuk menjawab sesuatu yang berhubungan dengan ilmu fisika di alam semesta ini. Namun, bukan berarti sains bisa luput dari yang namanya mitos.

Baca juga : Fakta dari Xenotransplantasi, Pencangkokan Organ Hewan ke Manusia

Ada beberapa mitos yang terdengar ilmiah, namun sebetulnya keliru atau tidak seluruhnya benar. Apa saja mitos-mitos tersebut? Mengapa sains butuh untuk menjawabnya? Yuk, disimak artikel ini hingga tuntas.

Air Penghantar Listrik

Pernyataan tentang air yang dapat menghantarkan listrik ternyata cukup ambigu. Hal ini menimbulkan link alternatif live22 perdebatan di kalangan orang awam. Faktanya, air tidak dapat menghantarkan listrik. Lho, kok bisa? Wah, ini berarti melawan pelajaran pak guru di sekolah.

Ya, air memang bukan media atau unsur yang dapat menghantarkan listrik. Yang dapat menghantarkan listrik melalui air adalah kandungan dalam air itu sendiri, yakni mineral, kalsium, magnesium, dan lain sebagainya.

Nah, unsur atau senyawa itulah yang dapat menghantarkan listrik. Jadi, air sebagai zat cair tidak bisa menghantarkan listrik jika tidak terdapat unsur-unsur tersebut di dalamnya. Zat cair yang tidak dapat menghantarkan listrik disebut sebagai zat cair murni.

Science ABC mencatat bahwa kandungan mineral dalam air biasa, seperti air minum, hujan, sungai, dan lainnya, mengandung ion yang tentunya dapat menghantarkan listrik. Sementara, air murni yang tidak mengandung ion tentu tidak dapat menghantarkan listrik.

Jadi, jangan salah lagi, ya! Kalau ada anggapan bahwa air itu adalah penghantar listrik, itu adalah mitos. Yang benar adalah unsur dan kandungan mineral air yang dapat menghantarkan listrik, bukan airnya.

Everest Gunung Tertinggi di Bumi

Everest memang gunung tertinggi jika diukur dari atas permukaan air laut karena memang kaki gunungnya berada di atas permukaan laut. Gunung Everest memiliki tinggi 8.850 meter dan terletak di perbatasan Nepal dan Tibet. Gunung ini memang sangat terkenal hingga banyak orang terlena dengan mitosnya.

Sementara, gunung tertinggi di dunia—yang benar-benar tertinggi—adalah Mauna Kea, sebuah gunung berapi kuno yang ada di Hawaii. Mauna Kea memiliki tinggi 10.200 meter dengan kaki gunung yang terdapat di dasar laut sedalam 6.000 meter.

Jika hanya diukur dari atas permukaan laut, tentu Mauna Kea hanya mencapai 4.200 meter. Namun, dalam ilmu bumi dan geologi, pengukuran sebuah gunung harus dilakukan secara total dari kaki gunungnya.

Cahaya Matahari Berwarna Kuning

Pasti ada banyak orang yang beranggapan bahwa sinar matahari itu berwarna kuning. Anggapan ini sebetulnya tidak tepat. Pasalnya, sinar matahari bukan berwarna kuning, melainkan putih.

Matahari memiliki semua warna dalam spektrum cahaya, mulai dari gelombang panjang hingga gelombang pendeknya. Merah, oranye, dan kuning adalah gelombang panjang. Sementara, biru, hijau, dan ungu adalah gelombang pendek dalam spektrum cahaya.

Jurnal sains yang ditulis dalam Stanford mencatat bahwa cahaya merupakan sebuah gelombang yang terdapat dalam spektrum elektromagnetik. Cahaya Matahari berwarna putih dan menjadi kekuningan karena mata kita menangkap gelombang panjang dari cahaya tersebut.

Hal ini dapat terjadi karena cahaya matahari masuk menembus atmosfer. Atmosfer akan membiaskan cahaya tersebut dalam hukum spektrum cahaya. Cahaya yang lolos ke mata kita akan terpancar sebagai gelombang panjang (oranye, kuning, dan merah), sedangkan langit akan membiaskan gelombang pendek (biru).

Itulah sebabnya langit pada siang hari akan terlihat biru, sedangkan cahaya matahari akan tampak berwarna kekuningan. So, sudah tahu mana mitos dan mana fakta dalam hal ini, kan?

Orang Berkulit Gelap Tahan Sinar UV

Tentu saja anggapan ini keliru. Faktanya, semua orang yang memiliki pigmen kulit pasti dapat rentan terhadap sinar UV dari matahari. Ironisnya, ada anggapan keliru yang menyatakan bahwa orang berlulit gelap gak akan bisa kena kanker kulit. Duh!

Medical News Today mencatat bahwa orang berkulit gelap bisa dan sering terkena kanker kulit. Jenis kankernya juga sama bahayanya dengan kanker kulit yang biasa diidap oleh orang berkulit putih.

Bahkan, kanker kulit yang dialami oleh kulit gelap bisa lebih fatal karena terlambat dalam penanganan. Selain gejala yang sulit dikenali, adanya anggapan keliru tentang hal ini juga dapat memperburuk kondisi yang ada.

Padahal, mitos ini terdengar ilmiah, ya? Dulu, sering kita dengar bahwa kulit gelap tahan terhadap sinar UV karena memiliki kepadatan pigmen yang lebih baik ketimbang kulit putih. Ternyata, itu semua keliru. Setelah kamu membaca artikel ini, jangan sampai keliru lagi, ya!

Sumber : idntimes.com