Penemuan yang Membantu Para Ilmuwan Tentang Evolusi Manusia

Penemuan yang Membantu Para Ilmuwan Tentang Evolusi Manusia

Penemuan yang Membantu Para Ilmuwan Tentang Evolusi Manusia – Evolusi manusia, Anthropogenesis, atau hominisasi, merupakan bagian dari evolusi  biologi yang mengenai munculnya homo sapiens. Teori ini merupakan subyek yang luas diselidiki secara ilmiah yang berusaha untuk memahami dan menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Studi dari evolusi manusia meliputi berbagai ilmu pengetahuan, terutama fisik antropologi, linguistik  dan genetika.

Beberapa tipologi spesies Homo telah berkembang, termasuk Homo erectus yang menghuni Asia dan Homo neanderthalensis  yang menghuni Eropa. Archaic Homo sapiens berevolusi antara 400.000 dan 250.000 tahun yang lalu. Selama bertahun-tahun, para antropolog di seluruh dunia terus menemukan hal-hal yang menjadi bukti seperti apa nenek moyang manusia.

Secara keseluruhan, terobosan-terobosan ini terus menunjukkan bahwa banyak gagasan para ahli sebelumnya tentang kisah asal usul manusia yang ternyata salah. Ketika para peneliti menemukan lebih banyak bukti-bukti dan terobosan ini, teka-teki evolusi manusia menjadi semakin menemukan titik terang. Di bawah ini telah dirangkum dari laman Mental Floss dan Business Insider,

1. Jejak kaki hominin dalam abu vulkanik di Tanzania
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Pada tahun 1978, ahli paleoantropologi terkenal, yaitu Mary Leakey dan antropolog Paul Abell menggali fosil jejak kaki di Laetoli, Tanzania. Diawetkan dalam abu vulkanik, jejak kaki berusia 3,6 juta tahun itu kemungkinan merupakan milik salah satu spesies hominin paling awal, Australopithecus afarensis.

Anatomi kaki dan gaya berjalan pejalan kaki menunjukkan bahwa A. australopithecus adalah bipedal dan bergerak lebih seperti manusia daripada kera. Ini memberi para ilmuwan lebih banyak petunjuk tentang evolusi manusia yang sebenarnya.

2. Tulang-tulang manusia purba di Maroko
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Pada tahun 2017, sejumlah peneliti menemukan tulang-tulang yang digali di wilayah Jebel Irhoud Maroko yang diperkirakan berusia 315 ribu tahun. Tulang-tulang ini diperkirakan 100 ribu tahun lebih tua dari tulang yang sebelumnya dianggap sebagai fosil manusia modern tertua.

Sisa-sisa lainnya juga ditemukan di daerah yang berbeda di Afrika dan kebanyakan tulang manusia purba ditemukan di Afrika Utara dan Afrika Timur. Itu menunjukkan bahwa nenek moyang manusia yang paling awal mungkin tidak hidup hanya di satu bagian benua.

3. Lukisan gua Lascaux di Prancis
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Pada tahun 1940, sekelompok remaja laki-laki menemukan gua yang penuh dengan karya seni prasejarah. Para remaja ini sangat terkesan dengan lukisan tersebut sehingga mereka memutuskan untuk berkemah di luar gua selama seminggu untuk melindungi lukisan-lukisan di dalamnya.

Kemudian, mereka memutuskan untuk memberi tahu salah seorang guru mereka tentang apa yang mereka temukan. Setelah diselidiki, ternyata lukisan tersebut merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah seni. Lukisan tentang banteng, rusa, dan hewan prasejarah lainnya diperkirakan berusia sekitar 17 ribu tahun. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Zaman Batu sudah memahami kompleksitas seni figuratif.

4. DNA fosil di Botswana
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Oktober 2019 menunjukkan bahwa setiap orang yang hidup saat ini mungkin berasal dari seorang perempuan yang hidup sekitar 200 ribu tahun yang lalu di tempat yang sekarang menjadi bagian dari Botswana. Para peneliti menemukan lokasi itu menggunakan analisis genetik DNA yang diturunkan dari garis keturunan perempuan.

Temuan ini mendukung teori bahwa nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika kemudian bermigrasi ke seluruh dunia. Ini melawan anggapan bahwa manusia pertama berkembang di lokasi yang berbeda di seluruh dunia secara bersamaan.

5. Seni representasi tertua di Sulawesi
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Gua batu kapur Sulawesi adalah harta karun yang menyoroti kesenian prasejarah. Pada tahun 2019, para peneliti menemukan lukisan yang menggambarkan adegan perburuan yang berusia 43.900 tahun yang lalu. Pada tahun 2021, para arkeolog Australia dan Indonesia menemukan seni representasional yang lebih tua lagi.

Lukisan ini menggambarkan babi dan dibuat menggunakan oker, mineral anorganik yang tidak dapat diberi penanggalan karbon. Namun, tim peneliti menentukan tanggal penumpukan kalsium berupa stalagmit dan stalaktit di bawah dan di atas lukisan, dan menemukan bahwa lukisan tertua dibuat setidaknya 45.500 tahun yang lalu.

6. Tengkorak anak di Afrika Selatan
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Pada tahun 1924, pekerja tambang di dekat Taung membawa tengkorak yang tidak biasa kepada ahli anatomi Raymond Dart. Menurut pengamatan, tengkorak tersebut tidak cocok dengan kera atau manusia modern. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, Dart menyimpulkan bahwa tengkorak tersebut milik hominin berusia 3 tahun, yang ia beri nama Australopithecus africanus dan diperkirakan berusia sekitar 2,8 juta tahun.

Penemuan ini merupakan salah satu fosil pertama yang menunjukkan bipedalisme hominin awal, dan mendukung teori bahwa manusia berevolusi di Afrika, bukan di Asia atau Eropa. Pada pertengahan 1990-an, antropolog Lee Berger memeriksa tengkorak tersebut dan menemukan bahwa anak tersebut telah diserang dan dibunuh oleh elang.

7. Patung manusia singa di Jerman
7 Penemuan Ini Membantu Ilmuwan Memahami Evolusi Manusia

Ditemukan pada tahun 1939 oleh ahli geologi Otto Völzing, patung Löwenmensch terbuat dari gading dan menggambarkan makhluk setengah manusia setengah singa. Memiliki tinggi lebih dari 0,3 meter, patung ini diukir sekitar 40 ribu tahun yang lalu selama periode Aurignacian.

Ini merupakan patung non-manusia tertua yang pernah ditemukan yang mungkin merepresentasikan dewa. Patung itu mungkin menjadi bukti bahwa kepercayaan manusia terhadap agama sudah ada sejak lama.

Demikianlah beberapa penemuan yang membantu ilmuwan memahami evolusi manusia. Meskipun anggapan seputar evolusi bisa terus berubah seiring makin banyaknya penemuan yang diteliti, tetapi setidaknya ini cukup memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan manusia sejak zaman dahulu.

Studi genetik menunjukkan bahwa primata bercabang (memisahkan diri) dari mamalia lain sekitar 85 juta tahun yang lalu pada periode Kapur Akhir, dan fosil paling awal muncul di era Paleosen, sekitar 55 juta tahun yang lalu. Keluarga Hominidae bercabang (memisahkan diri) dari keluarga Hylobatidae (Ungka) 15 sampai dengan 20 juta tahun yang lalu, dan sekitar 14 juta tahun yang lalu, Ponginae (orangutan), bercabang (memisahkan diri) dari keluarga Hominidae.

Bipedalisme adalah adaptasi dasar dari garis suku hominini, bipedal awal hominin diduga salah satu Sahelanthropus atau Orrorin, bersama Ardipithecus, bipedal penuh muncul kemudian.

Gorila dan simpanse memisahkan diri sekitar waktu yang sama, sekitar 4-6 juta tahun yang lalu, Sahelanthropus atau Orrorin mungkin nenek moyang terakhir manusia dengan dengan mereka (gorila dan simpanse). Bipedal awal akhirnya berkembang menjadi australopithecine dan kemudian berkembang lagi menjadi genus Homo.