Penjelasan Ivermectin Dari Guru Besar Fakultas Farmasi UGM

Penjelasan Ivermectin Dari Guru Besar Fakultas Farmasi UGM

Penjelasan Ivermectin Dari Guru Besar Fakultas Farmasi UGM -Ivermectin  adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis infestasi  parasit.  Pada manusia, ini termasuk kutu kepala , kudis , kebutaan sungai  (onchocerciasis), strongyloidiasis , trichuriasis , ascariasis , dan filariasis limfatik. Dalam kedokteran hewan, digunakan untuk mencegah dan mengobati heartworm dan acariasis , di antara indikasi lainnya.  Dapat diminum atau dioleskan ke kulit untuk infestasi eksternal.

Tidak jelas apakah aman untuk digunakan selama kehamilan , tetapi mungkin dapat diterima untuk digunakan selama menyusui. Itu milik keluarga obat avermectinIa bekerja melalui banyak mekanisme aksi yang mengakibatkan kematian parasit yang ditargetkan. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati, mengingatkan masyarakat untuk tidak asal mengonsumsi obat yang diklaim oleh pihak tertentu dapat menyembuhkan COVID-19.

Hal ini terkait informasi Ivermectin, obat yang dikenal sebagai obat anti-parasit yang kini disebut berpotensi IDNPoker menjadi obat COVID-19. Ia mengingatkan bahwa obat ini belum disetujui penggunaannya untuk terapi COVID-19, dan belum memiliki panduan penggunaan seperti dosis dan aturan konsumsi jika diberikan pada pasien COVID-19.

1. Harus ada pengujian untuk memastikan keamanan
Penjelasan Guru Besar UGM Soal Obat Ivermectin

Ia mengungkapkan salah satu tim peneliti di Australia pernah merilis hasil penelitian secara in vitro menunjukkan bahwa obat ini memiliki efek antiviral pada SARS-CoV-2.

Namun, untuk dapat digunakan sebagai obat COVID-19 diperlukan tahapan pengujian untuk memastikan efektivitas serta keamanannya pada penggunaan terhadap manusia.

“Obat untuk COVID, untuk bisa dipastikan harus ada pengujiannya. Tidak bisa hanya in vitro lalu langsung dipakai, dasarnya kurang kuat,” papar Zullies.

2. Badan POM membutuhkan data uji klinis

Ketahui 5 Fakta Ivermectin Obat Terapi Covid-19 yang Sudah Kantongi Izin  BPOM

Obat ini sendiri, jelasnya, tidak banyak ditemukan di Indonesia karena penyakit cacing ataupun parasit yang diobati dengan obat ini sudah jarang ditemukan. Obat ivermectin yang beredar saat ini lebih banyak merupakan obat yang diperuntukkan bagi hewan.

Uji klinik terhadap penggunaan obat ini pada terapi COVID-19 telah dilakukan di sejumlah negara, dengan data yang bervariasi pada dosis maupun durasi penggunaannya.

Data-data dari pengujian inilah yang dibutuhkan untuk mendapat izin dari Badan POM sebagai lembaga yang melaksanakan tugas pengawasan obat.

“Badan POM membutuhkan data uji klinis yang bisa berasal dari negara lain asalkan metodologi dan jumlah subjeknya memadai, dosisnya sesuai, dan parameter penilaian luaran klinisnya sesuai,” terangnya.

3. Jangan cepat percaya pengakuan penyintas COVID-19
Penjelasan Guru Besar UGM Soal Obat Ivermectin

Ia mengingatkan agar masyarakat jangan terlalu cepat percaya pada pengakuan penyintas COVID-19 yang sembuh berkat mengonsumsi obat ini. Hal ini perlu dibuktikan lebih lanjut dengan penelitian dan data-data pembanding.

“Bisa saja itu kebetulan. Karena itu harus ada riset yang benar untuk memastikan apa benar itu karena ivermectin atau bukan,” katanya.

Ia menambahkan, obat-obat yang dianggap aman dikonsumsi pada terapi COVID-19 telah termuat dalam pedoman tatalaksana COVID-19.

Demi keamanan pasien, obat yang dikonsumsi sebaiknya adalah obat-obat yang diresepkan oleh dokter yang diberikan sesuai dengan kondisi yang dialami masing-masing pasien.

“Kalau diresepkan dokter tidak masalah, tetapi jangan pakai sendiri,” ucapnya.

Ivermectin ditemukan pada tahun 1975 dan mulai digunakan secara medis pada tahun 1981. Itu ada dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan DuniaIvermectin disetujui FDA sebagai agen antiparasitSelama pandemi COVID-19 , informasi yang salah tersebar luas yang mengklaim bahwa ivermectin bermanfaat untuk mengobati dan mencegah COVID-19. Klaim tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat.